Anak Gagap, Ajaklah Bicara dengan Rileks
Gagap merupakan gangguan bicara, bukan kecerdasan. Apa penyebabnya? Bagaimana mengatasinya?
Pada
usia prasekolah, seorang anak diharapkan sudah lancar berbicara. Namun
banyak yang bicaranya masih gagap. Gagap atau stuttering merupakan
bentuk gangguan pola dan kelancaran bicara.
Bagaimana gejalanya?
Repetisi atau pengulangan bunyi, seperti ”M..M..Mama.” Pengulangan suku
kata, misalnya ”Pa..Pa..Pa..Papa.” Dan pengulangan frasa, contohnya
”Mama mau..Mama mau..Mau apa.” Anak gagap juga seringkali memanjangkan
bunyi seperti, ”Ppppppp...Papa.”
Pada umumnya, gagap terjadi sebelum
si kecil menginjak usia 12 tahun. Puncaknya pada usia 2-3 tahun dan 5 –
7 tahun. Biasanya terjadi ketika anak sedang merasa sangat senang atau
kebalikannya, merasa sangat sedih, ketakutan, atau terlalu bersemangat.
Sehingga dia sulit mengutarakan maksudnya. Anak usia ini juga masih
kesulitan mencari kata yang tepat untuk mewakili maksudnya. Karena itu
seringkali bicara tersendat-sendat atau gagap.
5 Cara Mendidik Anak Agar Menjadi Anak Yang Bahagia Dunia Akhirat
5 besar cara mendidik anak agar menjadi anak yang bahagia dunia akhirat :
1. Anak harus di didik menjadi orang yang ahli syukur.
Ini supaya anak bisa menyikapi kehidupan dunia, bukan malah mencari dunia. Agar anak bisa mensyukuri disaat kaya ataupun miskin, agar anak tidak menjilat yang diatasnya atau meludahi / menghina yang dibawahnya. Sehingga rejeki bisa menghamba pada anaknya bukan anak menghamba pada rejekinya yang mana datangnya dengan hina.
2. Anak harus di didik dan cita cita menjadi orang ahli Taqwa.
Taqwa adalah orang yang menjalankan perintah Allah Rasul dan menjauhi larangan Allah Rasul tanpa terpengaruh di lihat orang atau tidak di lihat orang lain. Kalau menjadi orang bertaqwa kepada Allah maka rezeki diluaskan dan tidak disangka sangka, derajatnya ditinggikan, dosanya diampuni, dan segala urusan selalu dimudahkan.
1. Anak harus di didik menjadi orang yang ahli syukur.
Ini supaya anak bisa menyikapi kehidupan dunia, bukan malah mencari dunia. Agar anak bisa mensyukuri disaat kaya ataupun miskin, agar anak tidak menjilat yang diatasnya atau meludahi / menghina yang dibawahnya. Sehingga rejeki bisa menghamba pada anaknya bukan anak menghamba pada rejekinya yang mana datangnya dengan hina.
2. Anak harus di didik dan cita cita menjadi orang ahli Taqwa.
Taqwa adalah orang yang menjalankan perintah Allah Rasul dan menjauhi larangan Allah Rasul tanpa terpengaruh di lihat orang atau tidak di lihat orang lain. Kalau menjadi orang bertaqwa kepada Allah maka rezeki diluaskan dan tidak disangka sangka, derajatnya ditinggikan, dosanya diampuni, dan segala urusan selalu dimudahkan.
Agar Anak “Rajin" Belajar
Begitu anak Anda
masuk sekolah (maksudnya, Sekolah Dasar. Play group dan TK itu tidak
layak disebut sekolah, tapi “taman”), maka tugas-tugasnya semakin
kompleks. Hampir semua orangtua tentu menasehati anaknya untuk rajin
belajar. Yang penting anaknya duduk menghadap meja belajar, membaca
buku, mengerjakan PR. Padahal, belajar itu lebih dari sekadar rajin
saja. Belajar itu perlu kecakapan belajar atau “Study Skills.”
Sayang
sekali, sampai saat ini, baik orangtua maupun sekolah - juga
pemerintah, sangat jarang memperhatikan kecakapan belajar ini. Padahal,
memiliki kecakapan belajar adalah modal terpenting bagi setiap
pembelajar untuk mampu menguasai dan menerapkan apa pun yang ia
pelajari. Bukan hanya sukses secara akademik, tetapi juga sukses dalam
kehidupan.
Dan dasar dari semua jenis
kecakapan belajar adalah “keteraturan” atau “organisasi.” Ya,
keteraturan adalah langkah kritis dalam proses belajar. Apa saja sih
keteraturan ini?
Manfaat PR
Belakangan ini banyak sekolah full day (anak
belajar sampai sore) yang tidak memberi PR kepada anak-anak. Lalu “tren”
ini mulai “menular” ke beberapa sekolah klasik (siang hari, sekitar pk
14.00 paling lambat, sudah pulang).
Sebenarnya, apa sih untung dan ruginya anak-anak diberi PR itu?
Manfaat PR :
Sebenarnya, apa sih untung dan ruginya anak-anak diberi PR itu?
Manfaat PR :
- mengajarkan manajemen waktu kepada anak
- mengajarkan kepada anak bagaimana menentukan prioritas
- membantu guru menentukan seberapa baik pelajaran dan materi difahami oleh murid.
- mengajarkan kepada anak bagaimana menyelesaikan suatu masalah (bukan sekadar menyelesaikan soal-soal PR; misalnya, menyelesaikan perdebatan dengan orangtuanya, mengatasi perasan malas, dsb).
- memberi kesempatan bagi orangtua untuk melihat apa yang dipelajari anaknya dan seberapa besar penguasaan anaknya.
- mengajarkan kepada anak bahwa mereka harus melakukan hal-hal tertentu, bahkan jika mereka tidak menginginkannya. Ini penting dalam kehidupan dewasanya kelak.
- mengajarkan kepada anak bertanggung jawab dalam proses pendidikan dirinya sendiri.
- mengajarkan kepada anak untuk bekerja dan berpikir mandiri. Tetapi PR juga berpotensi menguatkan ikatan keluarga, karena anak bisa meminta bantuan saudaranya atau orangtuanya untuk bagian-bagian tertentu dari PR-nya.
- mengajarkan kepada anak pentingnya perencanaan, tetap fokus dan bertindak.
- menunjukkan pentingnya pelajaran hidup, seperti bagaimana membaca dan berkomunikasi dengan orang lain, yang akan mereka pakai sebagai orang dewasa nanti.
- membangun pengertian dan ketertarikan terhadap berbagai masalah dalam masyarakat.
- PR menyiapkan anak untuk ujian akhir.
PEMICU
Apa yang Anda lakukan jika anak Anda terus melakukan kesalahan berulang-ulang? Apa yang Anda lakukan bila ia "suka" membantah? Kalau ia berkali-kali tidak pernah mau membereskan mainannya? Jika ia mudah memukul adiknya atau temannya?
Cepat-cepat meresponnya? Dengan segera bereaksi, misalnya menasehati atau melarangnya atau menyuruhnya berbuat baik? Baiklah kalau itu perbuatan pertama. Tetapi jika sudah yang ke sekian belas atau bahkan ke sekian ratus kali, mengapa Anda masih reaktif?
***
Pernahkah Anda mengamati teknisi mesin mobil di bengkel? Ketika kita memeriksakan mobil yang menurut kita jalannya tak nyaman, apakah ia langsung memperbaikinya? Tidak. Ia menyalakan mesinnya, lalu mendengarkannya, mengamatinya, dicoba sana-sini. Ya, ia berusaha mengidentifikasi penyebabnya.
Sudahkah Anda tahu atau bahkan memahami mengapa anak Anda terus menerus mengulangi suatu perbuatan? Tentulah perilaku atau tindakannya itu bukan mendadak muncul begitu saja. Tentu ada proses ya. Tentu ada pemicunya.
Nah, jika ia berbuat B karena ada pemicu A, atau ia berbuat Z karena ada faktor-faktor prakondisional XY, apa yang dapat kita lakukan? Apakah hanya fokus bereaksi pada B dan Z, akan membuatnya berhenti melakukannya? Tidak! Mengapa? Karena reaksi cepat kita itu malah memperkuat perilakunya. Tindakan reaktif orangtua itu seperti hadiah baginya. Seperti undangan untuk mengulangi perbuatannya.
Jadi, kita mesti bagaimana?
Langganan:
Postingan (Atom)